Bermain Analogi Tentang Corona Virus

Hipotesis dirombak, teori direvisi, temuan baru menggenapi keganasan temuan lama. It shows us how bad Coronavirus-2 attacks our body. Jika pola serangannya tdk dpt diprediksi, bgmna cara pasukan imun melawannya?

Pandemi COVID-19 telah melumpuhkan berbagai sektor. Daya transmisinya yang agresif memaksa kita untuk menghentikan aktivitas untuk sementara waktu. Jika kalian sedikit update, kalian pasti menyadari jika coronavirus bukanlah sekadar virus respirasi biasa.

Pola serangannya yang unik hampir tidak dikenali oleh mayoritas dokter dan ilmuwan. Tidak ada yang menyangka bahwa virus ini menunjukkan pola pneumonia yang tidak biasa. Aneh dan penuh tanda tanya.

Selama 4 bulan pasca awal pandemi, temuan demi temuan bermunculan. kasus demi kasus saling mematahkan hipotesis satu sama lain.

Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana virus corona menyerang tubuh kita? Apa yang dilakukan sistem imun untuk melawan? serta Bagaimana peluang keberhasilannya?

Mari kita bermain analogi 🙂


Coronavirus is a virus. Selayaknya sebuah virus, perilakunya ya sama aja dengan virus yg lainnya

"Membajak sel hidup lalu mengubahnya sebagai pabrik pengganda diri."

Yang membedakannya hanya pada cara virus corona menyerang, termasuk strateginya dan kecerdikannya

As a new pathogen, our immune system has NO CLUE at all about who they are gonna deal with. Sama seperti bingungnya pasukan imun ketika menghadapi virus campak atau ebola

Sepanjang yg imun tau, patogen harus dikalahkan menggunakan pengetahuan berperang yg mereka punya apa adanya


Virus corona dapat masuk ke tubuh kita lewat mata, hidung, dan mulut melalui media droplet yang berasal dari cipratan batuk atau bersin seseorang yg terpapar baik secara langsung maupun tdk lgsg

Apa yang virus corona lakukan begitu mereka berhasil masuk?

V1: "Yes! akhirnya kita berhasil masuk! Ayo kita cari gembok. Kayanya tubuh org ini punya banyak gembok yg cocok dg kita."

V2: "Betul lu bro. Kita harus beranak-pinak dulu sebelum menyerang. Jangan sampe pasukan imun orang ini tau!"

V1: "hajar gan!"

That's the first stage of invasion, "Replication"

Virus corona akan berusaha masuk ke tubuh kita melalui saluran pernapasan atas, mencari target sel hidup yg memiliki gembok yg sesuai dg yg mereka cari, lalu menggandakan diri

Apa yang mereka maksud dengan gembok?

Gembok yg mereka maksud adalah Reseptor Angiotensin-Converting Enzyme 2 (ACE-2). Virus corona tdk bs sembarangan menginfeksi sel hidup. Mereka hrs selektif krn kunci yg mereka miliki cocok dg gembok ACE-2. Jika kunci dan gembok tsb bertemu, virus corona mampu menginfeksi sel tsb

Lapisan jaringan pertama (epitel) yg melindungi alveolus menjadi sasaran empuk virus corona.

Apa yang bisa sel epitel lakukan ketika diserang? kabur? mana mungkin. sel2 tersebut bersatu membentuk jaringan kok

Ketika sel epitel berkeringat dingin krn akan menemui ajal, virus korona justru terkekeh menikmati mangsanya.

Dalam sekejap, virus korona menusuk sel epitel yg memiliki ACE-2 & mengubahnya jadi pabrik pengganda diri. ribuan virus baru menyeruak keluar dari dalam tubuh sel tsb...


Sel epitel meledak, mati, dan menyebarkan jutaan virus korona baru untuk menginfeksi sel-sel epitel yg lain

Proses ini terjadi pada hampir seluruh jaringan yang diserang oleh virus korona.

Jumlah virus korona tumbuh secara eksponensial, menginvasi tubuh penderita begitu cepat

Pada titik ini, penderita masih belum menunjukkan gejala yang berarti. Akan tetapi, statusnya menjadi OTG. Tanpa dia sadari, ia membawa buanyak virus corona dalam tubuhnya. Jika dia meremehkan protokol physical distancing dan penggunaan masker, banyak orang yang tertular dari dia

Peningkatan jumlah virus yang menginfeksi jaringan paru-paru memicu respons untuk batuk. Sel epitel kita rupanya mengorbankan diri untuk memberi tau sel imun tentang bahaya serius yang mereka hadapi. Otak memantau shgg memerintahkan sistem pernapasan utk ngeluarin virus.

Pada kondisi ini, batuk kering muncul.

Salah satu jenis sel alveolus (Type II cells) yang melihat kekacauan ini, buru2 memanggil makrofag untuk datang ke tempat bencana. Dari sinilah virus korona menyadari bahwa mereka mulai terancam. Mereka telah membangunkan singa yang tidur

Siapa singa yang dimaksud? Benar! Pasukan imun kita

Tanpa menunggu waktu lama, makrofag mengeluarkan sitokin utk memanggil seluruh pasukan imun datang ke lokasi bencana. Masih ingat kan peran sitokin sbg pembawa perintah?

Konsekuensi tindakan makrofag memicu vasodilatasi

Sebagai layaknya seekor singa, sistem imun kita bisa berubah menjadi sangat ganas (yang mampu mencederai sel kita sendiri) sehingga butuh diatur secara ketat

Oleh sebab itu, sel imun tidak akan bertindak kecuali diperintah.

Pasukan imun yg ada di dlm pembuluh darah membaca perintah itu. Dinding pembuluh darah tbtb melebar menjauhi mereka, membawa lebih banyak darah dan pasukan untuk menuju lokasi bencana

Inilah, Neutrofil. Pembunuh penuh semangat yg punya dendam tersendiri pada segala jenis patogen


Semakin banyak imun yang berdatangan, semakin banyak pula cairan (darah) yang dikeluarkan.

Neutrofil bersama pasukan imun yang lain membunuh secara brutal virus2 nakal tsb

Tanpa mereka sadari, ruang alveolus kini dipenuhi oleh cairan. mengganggu pertukaran oksigen dan CO2

Jumlah oksigen di dalam darah mulai menurun dan karbondioksida mulai naik. Otak menganggap ini sebagai kesalahan dan memaksa otot pernapasan utk menggenjot masuk lebih banyak oksigen. Penderita mulai sesak napas

Pasukan imun kebingungan, perintah menjadi tidak jelas

Salah satu pasukan imun pembunuh kuat yang lain, Killer T-Cell, mulai error. Biasanya, sel T ini nyuruh sel2 yang terinfeksi utk bunuh diri, namun sel-sel yang sehat juga disuruh ikutan bunuh diri.

Semakin banyak sel imun yg datang, semakin banyak pula kerusakan yang terjadi

Jumlah virus korona terlalu banyak + jumlah kerusakan yang terjadi pada alveolus juga terlalu banyak. Pada titik ini, alveolus mulai kolaps. Pertukaran gas mulai terganggu. Penderita mulai sesak hebat . Sistem pernapasan tbtb mengalami distres. Sindrom mengerikan mulai terjadi

Inilah yang kita sebut sebagai Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS). Pada kondisi ini, pasien mulai kehilangan kemampuan ventilasi spontannya. Gangguan ventilasi spontan terjadi sehingga pasien memerlukan ventilator

Kritis

to be continued
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar