Bersembunyi beberapa pekan, gas melon berubah jadi gas strawberry?


Subsidi minyak tanah ke lpg 3 kg yang dimulai sejak tahun 2008 saat ini mulai berubah arah, dahulu saat masa peralihan subsidi, masyarakat dengan mudahnya dapat membeli tabung gas 3 kg subsidi, namun di akhir tahun 2017 dibeberapa daerah stock gas bersubsidi tersebut mulai langkah.

Harga dipasaran mulai tak tentu arahnya, harga resmi dipangkalan adalah Rp.17.000,- namun dipengecer dapat berubah hingga Rp.25.000,- Pihak PT Pertamina (Persero) dibeberapa daerah bahkan telah melakukan operasi pasar untuk menstabilkan harga

Tapi apakah operasi pasar PT Pertamina (Persero) tersebut berhasil.?

Dari hasil pantauan tertanggal 13 Desember 2017 di beberapa pengecer, para pengecer tetap mempertahankan harga gas tersebut Rp.25.000,- hal ini tentu menjadi tanda tanya yang besar bagi Masyarakat, 

Apakah kelangkaan gas tersebut dikarenakan permintaan yang banyak ataukah strategi bisnis PT Pertamina (Persero)?

11 Desember 2017 Direktur Pemasaran PT Pertamina (Persero), Iskandar Muchamad memberikan penjelasan bahwa ada rentang harga yang jauh antara gas 3 kg subsidi dengan harga gas 5 kg nonsubsidi.

Setelah memberikan penjelasan pihak perusahaan bumn tersebut menambahkan bahwa pada tahun 2018 PT Pertamina (Persero) akan meluncurkan gas 3 kg nonsubsidi

Puluncuran gas 3 kg nonsubsidi 2018 yang mungkin memberikan rentang harga tidak terlalu jauh dengan harga pengecer saat ini tentu membuat masyarakat berpikir bahwa kenaikan harga pengecer tersebut adalah strategi bisnis PT Pertamina, tapi kita sebagai masyarakat tentu berharap bahwa strategi ini tidaklah benar atau hanyalah anggapan yang salah.

Tapi apapun itu Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang cukup pasrah dengan hal ini, bagian ini mungkin hanya jadi ujian kecil jika kita tidak ingin bergantung terhadap subsidi pemerintah.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar